Mengenal Efek Globalisasi: Brain Drain atau Brain Gain?

alah satu hal yang paling menakutkan bagi negara selain kehilangan sumber daya alamnya adalah kehilangan sumber daya manusianya. Sumber daya manusia dalam hal ini adalah sumber daya manusia yang sudah terlatih. Muncul sebuah istilah Brain Drain. Pengertian dari istilah ini adalah ketika banyak sumber daya manusia yang berkualitas di sebuah negara pergi untuk mencari kehidupan yang kebih baik. Istilah ini mulai popular terutama di negara berkembang mengingatSDM yang terlatih sangat diperlukan untuk membangun negaranya. Selain istilah ini muncul juga sebuah istilah yang dinamakan Brain Gain. Isitilah brain gain berarti ketika sebuah negara menerima para emigrant intelijen dari berbagai negara yang ingin mencari kehidupan yang lebih baik seperti mencari pekerjaan yang dimana mereka bisa mendapat gaji yang lebih tinggi ataupun mencari fasilitas kehidupan yang kebih baik. Kehilangan orang-orang berkualitas merupakan suatu kerugian yang cukup besar bagi negara berkembang.

Sumber daya yang berkualitas ini seharusnya bisa menciptakan lapangan perkerjaan bagi orang lain maupun membagikan ilmu yang mereka dapat untuk orang lain sehingga mereka bisa meningkatkan tingkat produktivitas masyarakat yang kurang terlatih. Namun tidak semua negara merasakan hal ini. India memproduksi lebih banyak teknisi daripada yang bisa dipekerjakan maka dari itu kehilangan beberapa teknisi tidak terlalu merugikan India. Sekolah kedokteran di Filipina bahkan mengiklankan bahwa siswa yang membayar biaya sekolah mereka sendiri dipastikan akan mendapatkan pekerjaan di Amerika setelah mereka lulus. Namun ada juga negara yang tidak bisa mengakomodir pekerja mereka yang jumlahnya lebih banyak karena lowongan pekerjaan yang tersedia tidak mampu menampung seluruh tenaga professional. Fenomena ini menyebabkan sebuah dilemma antara brain drain dan brain in the drain yang menjadikan pindah ke luar negeri adalah pilihan yang tidak bisa ditolak

Kebanyakan dari masyarakat yang bermigrasi adalah merek yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam bidangnya serta berpengalaman, yang dimana seharusnya bisa menularkan kemampuannya kepada masyarakat lain. Masalah yang terjadi di Afrika adalah beberapa negara seperti Ghana kehilangan sangat banyak dokter. Padahal dokter merupakan suatu profesi yang keahliannya sangat dibutuhkan karena tingginya jumlah penderita HIV/AIDS. Hal ini sebenarnya membuat dilemma bagi pemetintah. Tidak mungkin seorang warga negara tidak diperkenankan untuk bekerja di luar negeri meskipun negaranya sendiri sangat membutuhkan, hal ini dianggap tidak etis. Kebabasan untuk bermigrasi tertera dalam salah satu pasal dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Beberapa negara seperti China mulai memanfaatkan diaspora mereka sebagai brain bank. Ketika pekerja biasa membawa banyak uang kembali ke negaranya, pekerja yang memiliki kemampuan dan pengalaman yang lebih. Maka dari itu penulis berpendapat bahwa hal inilah yang seharusnya negara kita Indonesia lakukan, yaitu menjaga supaya masyarakat yang berkualitas tidak pergi dan menetap di negara lain, sehingga mereka bisa memberikan sumbangsih mereka untuk membangun negeri.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita sering mendengar bahwa kalau orang pintar tidak dimanfaatkan di negeri sendiri sehingga mereka pindah ke negara lain untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Contoh yang familiar adalah mantan Presiden B.J Habibie dan salah satu ahli listrik Indonesi Ricky Elson. Mereka berdua adalah contoh orang pintar Indonesia yang mencari kehidupan lebih baik di luar negeri karena mereka lebih dibutuhkan di negara lain. Globalisasi telah mempermudah akses kita bepergian ke negara lain. Hal inilah yang dimanfaatkan mahasiswa Indonesia yang mencari ilmu di negeri orang. Beberapa dari mereka ada yang kembali membawa ilmu yang telah mereka pelajari dan membangun Indonesia, namun tidak sedikit yang tidak kembali. Ada banyak alasan, mulai dari sudah mendapatkan pekerjaan ataupun merasa keahlian mereka tidak dibutuhkan di negeri sendiri.

Apakan dampak globalisasi terutama dalam perpindahan tenaga ahli telah merugikan Indonesia? menurut penulis tidak sepenuhnya benar. Dewasa ini kita lihat mulai banyak dosen yang kuliah di luar negara lain dan pulang untuk mengajar kembali, lalu banyak dari para pemimpin negeri ini yang juga lulusan universitas ternama di benua Eropa maupun Amerika memimpin bangsa Indonesia menuju kearah yang lebih baik. Kepulangan ini tentunya selain karena mereka merasa memiliki tanggung jawab untuk membangun negeri, mereka juga memiliki rasa cinta tanah air. Masih banyak alasan lainnya mengapa para intelektual kita kembali ke tanah air. Namun sangat disayangkan bahwa masih ada yang tidak ingin atau belum ingin kembali. Sekarang adalah bagaimana usaha dari pemerintah untuk memanggil para intelektual yang berada jauh di negeri orang untuk kembali ke negeri sendiri dan bagaimana usaha kita sendiri sebagai mahasiswa yang sering disebut sebagai kaum intelektual untuk berpartisipasi membangun Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *